Jumat, 30 April 2010

Dalam keterpurukan saya harus berusaha lebih bangkit lagi

Terkadang seorang wanitaharus bisa berfikir seperti pria, belajar berfikir secara logila tetapi tanpa harus meninggalkan anugrah intuisi perasaan wanita yang begitu indah. Itulah yang harus saya lakukan saat ini. Pengalaman adalah guru. Saya banyak belajar dari pengalaman. Pengalaman yang indah atau buruk adalah sebuah proses pendewasaan agar kelak saya bisa menjalani hidup ini lebih baik lagi.

Selama ini saya sudah menjalani hidup dengan selalu berfikir positif dan berusaha menjadi yang terbaik. Terkadang saya hanya mengandalkan cara intuisi perasaan tanpa menggunakan logika dalam kenyataan. Tanpa sadar cara itulah yang membuat lubang hitam yang dapat menjadi jebakan dalam hidup saya, dan saya sedang masuk tetapi saya juga berusaha untuk bangkit keluar. Tetapi susahnya menerima bahwa lubang tersebut adalah luabng yang saya buat sendiri hasil dari cara hidup saya selama ini.

Setahun lalu seorang Hawa pun terpuruk dengan cerita cintanya hingga seorang Adam menawarkan dirinya untuk menjadi bingkai hati sang Hawa. Hawa pun takut menerima tawarannya namun sang Adam terus meyakinkan dirinya adalah pedamping tepat untuk sang Hawa, Hingga Hawa pun luluh dan memulai merajut lembaran baru dengan sang Adam. Dalam dunia mereka ada sesuatu yang secara logika tidak bisa bersatu. Yaitu prinsip hidup tentang KETUHANAN. Namun sang Adam pun memegang tangannya dan berkata "Cinta kita tidak pernah salah, kita hadapi semuanya. Aku yakin dengan dirimu adalah wanita terakhir dalam hidupku". Dan kemudian sang Hawa menetapkan sang Adam didepannya adalah sang Adam yang akan selalu ada dihatinya. Tidak disadari sebenarnya sang Hawa hanya berpikir dengan perasaan. Perasaannya yang berkata " Dia adalah adam ku tidak mungkin dia melukaiku". Sang Hawa memberikan kebebasan sang Adam untuk mengenal dunia luar dengan tetap menghormati segala kehidupan pribadinya. Namun sang Adam adalah hanya manusia biasa yang dapat dirayu oleh iblis untuk memakan buah khuldi. * yang saya maksud disini khuldi = pengkhianatan*. Sang Adam telah terbujuk wanita lain yang berarti sang Adam telah mengkhianati cinta tulus sang Hawa.

Itulah sedikit banyak penggambaran keterpurukan yang saya sedang alami. Bangkit dari pengkhianatan seorang Adam, mencoba unutk memafkan dan tentu saja belajar berpikir dengan logika untuk menerima kenyataan ini. Hidup terus berjalan dan saya tetap berusaha untuk merangkai kembali serpihan hati dan berusaha berjalan kedepan mencari sang Adam seperti bertemunya sang Adam dan Hawa di Padang Arafah










Minggu, 11 Oktober 2009

...Dan bila tiba saatnya kita pun pasti menyusul...

Setelah hujan kucinta wangi bumi yang basah. Wangi yang membuat gue merasa nyaman dan tenang.Namun sebaliknya ketika hujan lebat gue merasa gundah. Bila dirumah gue lebih memilih stay dikamar sambil mendengarkan lagu-lagu atau penyiar radio mengentertain para pendengarnya. Bila diluar gue akan mencoba mencari tempat yang aman dari air, angin dan suara petir.

Seperti hari ini, cuaca mendung sedikit gerimis namun kilat menghiasi langit Jakarta. Kondisi badan yang cukup lelah setelah 5 hari belajar mengenal dunia luar membuat gue lebih memlih menghabiskan hari sabtu dirumah.

Bangun siang, melupakan sejenak mandi gue langsung menyantap masakan yg telah disediakan mamah. Setelah itu membereskan kamar, lalu mandi. Merasa badan ini kurang baik terbesit ingin minum obat namun gue rebahkan kembali badan ini. Entah mengapa dalam angan antara sadar dan tidak sadar gue memikirkan tentang kehidupan yang telah gue lewati. Semakin gue mendalami semua perjalanan kehidupan semakin gue menatap perjalanan yang sangat jauh perjalanan yang harus gue lalui.

Menjelang malam gue mendapatkan kabar ayah teman gue kuliah telah tiada Yaaa.. itulah yang disebut akhir perjalanan pastinya teman gue menyambut kiamat kecil ini dengan tangisan seperti pertama kali ayahnya memulai kehidupan dengan tangisan. Namun bedanya kali ini tangisan yang diberikan adalah tangisan duka.

Minggu pagi gue dengan beberapa teman kuliah telah bekumpul di loby kampus untuk berencana melayat ayah iyunk (nama teman gue). menurut cerita teman beliau wafat akbat serangangan jantung.

Sekitar jam 10 pagi kami sampai di rumah iyunk. ketika tiba ayah iyunk sedang dmandikan dan gue duduk disebelah kain penutup ruang mandi sambil menatap selang transparan penuh air dihiasi bunga. Walau cuaca panas dan matahari terik menyinari langsung kepala, gue dengan sabar menunggu waktu yang tepat untuk bertemu iyunk dan memberi sedikit support.

Ketika kita telah tidak bernyawa gue menyadari bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Entah apa yang dilakukan ruh ayah iyunk ketika melihat raganya lemah tak berdaya.. Dimandikan, dikafankan hingga diantar di tempat peristirahatan yang teakhir.

jadi.. Selama gue masih diberi kesempatan untuk hidup. Gue akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan orang - orang disekeliling. Agar kelak bila gue telah tiada mereka akan merelakan air matanya terjatuh karena merasa kehilangan..